Spiritualitas kaum "intelektual" ?
Fenomena pelatihan penyeimbangan IQ, SQ, dan EQ memang sedang masa off peak-nya pada beberapa tahun
terakhir. Akan tetapi apakah peningakatan pelatihan itu hanyalah sebuah trend
semata ataukah memang masyarakat Indonesia sudah mulia melek akan pentingnya
hal tersebut.
Seperti diketahui, bahwa IQ yang merupakan singakatan dari intelligential quotient adalah hal yang
sudah sangat umum terdengar di telinga masyarakat Indonesia, terlebih lagi para
orang tua murid/mahasiswa yang menurut saya terlalu paranoid/takut akan yang
namanya IQ rendah, terlebih bila hal tersebut tercap pada kepala sang anak.
Padahal menurut penelitian dari Institute of Carnegie, dari sepuluh ribu orang
sukses, hanya 1500 orang yang sukses berdasarkan kompetensi teknik (dalam hal
ini kompetensi teknik adalah kepandaian a.k.a IQ), sedangkan 8500nya
berdasarkan kepribadiannya. Bila dihitung secara matematis, orang sukses karena
pure otak berbanding dengan orang
sukses karena kepribadian adalah 15:18, perbedaan yang cukup siginifikan bukan?
Dan orang tuapun masih terpaku ahanya pada yang namanya IQ!! (data dari esq165blog.wordpress.com/sekilas-esq/)
Sedangkan EQ dan SQ apa itu? EQ adalah kecerdasan emosional dan SQ adalah
kecerdasan spiritual. Dan hal tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan
agama manapun. Perlu dicatat dan diingat bahwa kecerdasan emosi dan kecerdasan
spiritual tidak berhubungan dengan agama manapun. Karena emosi berhubungan
langsung dengan manusia, sedangkan spiritual berhubungan langsung dengan sebuah
entitas Ilahiah, tanpa memandang agama apa yang mereka anut. Menurut Profesor
Ioanes Rakhmat, seorang freethinker,
mantan pendeta yang juga seorang pemikir liberalis (bisa dilihat tulisan blognya
di http://www.ioanesrakhmat.blogspot.com/) saya menyimpulkan bahwa siapapun bisa mempunyai
spiritualitas yang tinggi, dimana bahkan orang tersebut dicap sebagai atheis
oleh masyarakat.
Nah, hubungannya dengan dunia pendidikan di Indonesia? sudah terlalu banyak
(amat banyak malah) orang yang pintar berIQ tinggi akan tetapi tidak mempunyai
emosi dan spiritualitas yang benar. Mungkin tahun tahun sebelum ini dengan
sekarang di Indonesia terdapat beberapa perbedaan signifikan. Tahun dahulu,
orang orang mungkin yang berpendidikan masih sedikit akan tetapi orang jahat dan
orang bejat juga masih sedikit. Sekarang, orang pintar dimana mana, akan tetapi
bertambah pula orang tidak bermoral. apakah ada sebuah korelasi yang signifikan
antara ketiga faktor tersebut? Sepertinya sih ada. Dan sepertinya mungkin
pelatihan seperti ESQ (saya bukan iklan) memang sedang dibutuhkan bagi kalangan
terpelajar di Indonesia agar menciptakan manusia yang mendekati kesempurnaan
yaitu pintar akademik, stabil emosi dan tinggi spiritual. Jika satu saja dari 3
aspek tersebut hilang, mungkin seorang terpelajar seperti mahasiswa akan
kehilangan citra dirinya sebagai orang terpelajar dan malah jatuh lebih buruk
dari norang tidak terpelajar.
Bayangkan saja bila pelajar mempunyai IQ baik, tentu riset akan berkembang.
EQ baik, tentu untuk masalah diplomasi akan berjalan mulus, dan SQ baik, maka
tidak akan ada kecurangan karena setiap orang mempunyai integritas yang tinggi.
Penerapan IESQ ini harus dijalankan secara bersamaan dan berkesinambungan. Lembaga
paling tepat dalam mengasah IESQ ke arah yang lebih baik adalah sekolah dasar
(SD). Karena dari masa masa SD itulah harus diajarkan pentingnya sopan santun,
perilaku, kejujuran dan sikap ksatria yang sekarang sudah mulai luntur di
pendidikan dasar, karena hanya berorientasi pada otak, bukan mental dan
perilaku. YA, PENDIDIKAN DASAR (bukan membentak, tapi ini harus ditekankan)
(Edwin Saferian)


Comments
Post a Comment